Minggu, Oktober 10, 2010

Jannah, Surgo, Nirvana, Heaven


Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkan kau bersujud kepada-Nya

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkah kau menyebut nama-Nya .................. (Chrisye & Ahmad Dhani)

***************************************************

Suatu ketika di negeri malaikat, diberitakan mengenai Si Fulan, di koran, internet maupun infotainment. Diberitakan bahwa Si Fulan adalah seorang ahli ibadah. Ketika semua orang tidur, dia sholat sendiri, getaran energi sholatnya sampai ke negeri malaikat. Ibadah A sampai Z lengkap sudah diamalkan tidak ada yang ketinggalan. Dan tidak pernah sekalipun berbuat maksiat. Semua malaikat tidak terkecuali Jibril mengagumi dan memuji Si Fulan. Si Fulan selalu menjadi pembicaraan dikalangan malaikat bak seorang artis, sampai akhirnya Allah menegur Jibril.

A : Bril, kamu sebagai ketua malaikat jangan gampang percaya dengan gosip

J : Ngapunten Gusti, … saya ini hanya heran kok ya ada orang lugu seperti Si Fulan, hidupnya mulai kecil cuma untuk ibadah.

A : Kok kamu malah kagum dengan ciptaan-KU... bukan kagum kepada Yang Menciptakan

J : Ngapunten Gusti

A : Gini Bril, sekarang kamu lihat data-data Si Fulan di Lauhil Mafhudz

Jibril segera mebuka Lauhil Mahfudz. Di bolak-balik mencari nama Si Fulan, diurut A, B, C... "Ah ini dia Si Fulan".

Jibril membaca kehidupan Si Fulan, mulai lahir procot sampai akhir hayatnya. Jibril kaget karena dicatatan paling akhir tertulis : DI NERAKA

J : Duh Gusti, itu Si Fulan kan ahli ibadah, ibadah A sampai Z dilakukannya semua. Ini kok masuk neraka ..? Gimana ini Gusti..?

A : Jibril, kamu ini malaikat yang sudah pengalaman, masak lupa dengan lakon-KU..? Kayak ndak kenal Aku saja... Lha Aku inikan Yang Berkuasa ... ya terserah Aku-kan, lha wong ya mahkluk-mahkluk ciptaan-KU, mau saya masukkan ke neraka ya biarin, gak usah nggumun

J : Duh Gusti, kalo begitu saya akan takziyah

A : Takziyah kemana..?

J : Ke Si Fulan, saya ikut berbelasungkawa, saya akan mengabarkan bahwa dia akan masuk neraka

A : Ya,...terserah kamu Bril...

Jibril turun ke bumi memberikan salam kepada Si Fulan.

J : Assalamualikum

F : Wa alaikum salam

J : Maaf, saya ini jibril

F : Alhamdulillah, Jibril.... monggo-monggo silahkan duduk...

F : Ada apa ..?

J : Maaf, sebenarnya saya ndak bisa mengatakan,... tapi saya terpaksa..

F : Terpaksa gimana ..?

J : Lha gimana, sampeyan rajin beribadah mulai kecil sampai tua, ..semua malaikat kagum dengan ibadah sampeyan,... sampai saya ditegur Allah. Suatu saat saya disuruh Allah membaca Lauhil Mahfudz, disitu tertulis sampeyan masuk neraka

Mendengar kabar masuk neraka, si Fulan tidak kaget samasekali, santai, malah senyum-senyum

F : Alhamdulillaaaaaaahi Robbil Aaaaaalamiiiiiin...., mau masuk neraka saja kok ya dikabari dulu.... Alhamdulillahi Robbil Alamiiiiiin berarti amalku salah semua... Alhamdulillahi Robbil Alamin, Allah mengirim utusan untuk mengingatkanku........... Ya memang saya akui, kadang-kadang punya hati yang jelek, prasangka buruk ........ kadang terbersit saya sudah ibadah sekian puluh tahun diberi ganjaran apa ya sama Allah? Kadang-kadang ada rasa curiga kepada Allah. Jangan-jangan umurku nanti habis untuk beribadah tapi nggak dapat surga ... Jadi ya memang benar kalo saya dimasukkan neraka.... Alhamdulilllaaahhh...saya diingatkan, saya akan siap-siap,.. lha wong saya ini cuma hamba-Nya, diperintah apapun ya saya nurut saja

Mendengar jawaban Si Fulan, Jibril tambah bingung

J : (dalam hati) ini orang kok lugu buanget, mau masuk neraka, hidungnya disetrika kok malah mengucapkan Alhamdulillah..?

Jibril naik lagi ke negeri Malaikat.

J : Lapor Gusti, saya sudah menemui Si Fulan.... saya malah tambah bingung Gusti,... ini orang lugu gak ketulungan, mau masuk neraka malah ngucap alhamdulilah... kok ya ada orang kayak gini..?

A : Oalah Bril..Bril, lagi-lagi kamu kok kagum dengan hamba-KU bukan kagum kepada-KU, ..coba sekarang kamu buka Lauhil Mahfudz lagi

Jibril segera membuka Lauhil Mahfudz,... tulisan DI NERAKA sudah dicoret diganti tulisan DI SURGA dengan ada catatan : dia masuk surga bukan karena amalnya, tapi karena hal sepele, karena adanya kesadaran kepada Allah sehingga sampai mengucapkan "Alhamdulillahi Robbil Alamin"

(sumber : pengajian Al Hikam- Ustad Imron Jamil)

Jumat, Oktober 01, 2010

Kerjo... kerjo... kerjo










Bekerja dengan CINTA bagai SANG PENCIPTA.........(KLa Project)

************

Seorang muslim tidak oleh bermalas-malasan dengan alasan sibuk beribadah. Ia harus bekerja mencari nafkah hidup. Islam melarang umatnya menganggur. Bekerja, mencari nafkah dianjurkan bagi setiap orang yang beriman. Apapun jenis pekerjaannya asalkan halal lebih terpuji daripada menganggur. Karena langit tidak akan mencurahkan hujan emas atau berlian.

Seorang muslim tidak boleh hanya menggantungkan dirinya kepada kemurahan hati orang lain; padahal ia mempunyai kemampuan untuk berusaha -bekerja

Dengan bekerja maka kaum muslimin dapat bersedekah dan mengeluarkan zakat dan melakukan amal-amal saleh sebanyak mungkin. -Dan katakanlah (hai Muhammad), " Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang beriman akan melihat pekerjaanmu........" - [QS At Taubah; 9:105]

Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabatnya bahwa bekerja harus dilakukan untuk menjaga harga diri. Pekerjaan apapun yang yang dilakukan dengan benar adalah jauh lebih baik daripada seseorang yang menggantungkan dirinya pada bantuan orang lain Itu adalah kehinaan dan kerendahan diri.

Rasulullah SAW bersabda- Sungguh seseorang yang membawa tali, kemudian dia membawa seikat kayu di punggungnya dan menjualnya, sehingga dengan itu Allah menjaga dirinya, maka yang demikian itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, yang terkadang memberinya dan terkadang menolaknya- [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]

Suatu ketika para sahabat memuji seseorang dihadapan Rasulullah SAW. Lantaran seseorang itu sepanjang waktu tiada henti-hentinya berdoa, berdzikir. Mendengar kisah itu Rasulullah bertanya, -Bagaimanakah atau siapakah yang memenuhi kebutuhan hidup orang itu dan keluarganya?- Para sahabat menjawab, "Kami memenuhi kebutuhan orang itu dan keluarganya." Maka Rasulullah bersabda, " Kalian lebih baik dari dia."

Kewajiban manusia untuk bekerja telah banyak dicontohkan dalam kisah kehidupan para Nabi Allah SWT. Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa Nabi Adam as mencari nafkah dengan bercocok tanam. Nabi Daud as adalah tukang besi, Nabi Idris as adalah seorang penjahit, Nabi Musa as adalah penggembala, Nabi Nuh as seorang tukang kayu.

Dan Rasulullah SAW pada masa mudanya adalah juga penggembala. Bahkan ketika telah diangkat menjadi Rasul, Nabi SAW masih bekerja memberi makan untanya, menambal sandal, menjahit pakaian serta menggiling gandum ketika pembantunya sakit. Bahkan Rasulullah juga pergi berbelanja ke pasar dan membawa belanjaannya sendiri. Sungguh agung dan mulia pribadi Rasulullah. Salam dan salawat bagi Nabi SAW.

Setiap usaha, pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga; serta dilakukan dengan jalan yang benar juga dapat memberi manfaat yang lain; maka usaha-pekerjaan itu dapat dikategorikan sebagai amal saleh apabila dilakukan dengan niat yang tulus. Adalah kemuliaan bagi orang-orang yang mau bekerja dan berusaha bukan bagi orang yang hidup mewah dengan tidak mau bekerja.

Islam bahkan juga menghormati pekerjaan yang oleh banyak orang dianggap sebagai pekerjaan yang 'tidak bergengsi'. Pekerjaan menggembala misalnya. Qur'an bahkan menceritakan kepada kita kisah Nabi Musa as ketika bekerja sebagai orang upahan. Nabi Musa as bekerja pada orang tua selama delapan tahun dengan upah akan dinikahkan kepada salah seorang puterinya. Demikian Nabi Musa as dinilai sebagai pekerja yang baik. [QS Al Qashash; 28:26]

Oleh karenanya setiap muslim hendaknya siap bekerja tidak bergantung kepada kemurahan hati orang lain. Bahwa tidak ada seorang nabi pun melainkan dia bekerja. Rasulullah SAW bersabda: - Tidak ada seorang pun yang memakan sesuatu yang lebih baik daripada memakan hasil kerjanya sendiri; dan Nabi Daud makan dari hasil usahanya sendiri- [ Diriwayatkan oleh Bukhari]

Selamat bekerja,..............

[dari berbagai sumber]

Kamis, September 09, 2010

Wis Riyoyo Maneh Rek..............




















Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd

Semoga setelah puasa Ramadan ini kita ….

DIMUDAHKAN ALLAH untuk menjalankan perintah-NYA

DIMUDAHKAN ALLAH untuk menjauhi larangan-NYA

Dimudahkan ikut “PIKIRAN ALLAH” …,yaitu Al Qur'an dan Syariat (sunnah)…

Yang cemberut berganti mudah senyum

Yang pelit berganti mudah sedekah

Yang suka ndem-ndeman dimudahkan mimik cucu

Yang membenci dimudahkan menyayangi

Yang negative thinking dimudahkan positive thinking

Yang tangan dibawah dimudahkan menjadi tangan diatas

Yang boros dimudahkan pandai mengatur keuangan

Yang malas dimudahkan rajin

Yang marah dimudahkan sabar

Yang misuhan dimudahkan nyebut asma-NYA

Berbuat baik menjadi terasa ringan

Berbuat buruk menjadi terasa berat

It's call TAKWA guys….

Seperti yang sering ustad, kiai, mubaligh baca dalam ceramahnya menjelang puasa Ramadan

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu BERTAKWA” (QS 2 : 183)

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

Mohon maaf lahir dan batin

Semoga kita dimudahkan-NYA meluruskan hati, lisan dan perbuatan kita....

Wassalam

Toto, Teti, Nisa, Dama

Selasa, Agustus 10, 2010

Wis posoan maneh rek,.....





















Karang lebur tertelan ombak
lenyap didalam lautan
bagai imanku yang dulu tegar
kini hancur dalam sesak kehidupan
aku ingin kembali ke masa kecilku dulu
aku ingin kembali bersih suci seperti dulu***
(Slank - Karang)
********

Mohon kelapangan dadanya untuk memaafkan kesalahan2 kami baik yang disengaja, agak disengaja maupun yang tidak disengaja.
Semoga Ramadhan 1431 ini semakin mendekatkan kita kepada Sang Pencipta seperti saat sebelum kita terlahir didunia, kita akrab dengan BELIAU,..
ruh kita berdialog...
"Alastu Birobbikum (Bukankah Aku Tuhanmu?)"
"Balaa, Syahidnaa (Betul, kami menjadi saksi)"

...dan setelah Ramadhan, kita menjadi abdi-NYA yang taat dan bermanfaat disetiap tarikan dan hembusan nafas.

Selamat menjalankan ibadah puasa dan berbuka puasa.
Toto, Teti, Nisa, Dama

Sabtu, April 10, 2010

Dari Kegelapan Menuju Cahaya

Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apapun. Disini tidak ada yang mengerti bahasa arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur’an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya - cuplikan surat Kartini kepada Stella, tahun 1899.

Pada waktu itu pemerintahan Hindia Belanda memperbolehkan umat muslim mengajarkan Al Qur’an dengan syarat tidak boleh diterjemahkan alias cuma belajar baca huruf arab. Ini memang politik Belanda agar orang-orang Indonesia tidak paham terhadap Al Qur’an dan tidak angkat senjata memerangi penjajah Belanda. Pengaruh ini masih dapat kita jumpai sampai saat ini, yang diutamakan dalam belajar Al Qur’an adalah KATAM bukan PAHAM, lebih utama “berapa kali katam” bukan “berapa ayat yang sudah paham”.

Suatu ketika Kartini mengikuti pengajian Kyai Soleh Darat yang diadakan di rumah pamannya. Kartini mendengarkan pengajian bersama wanita lainnya dari balik tabir. Kartini tertarik materi yang diberikan, tafsir Al Fatihah. Setelah pengajian, Kartini ditemani pamannya menemui Kyai Soleh Darat. Kartini menceritakan, bahwa baru saat itu dia mengerti makna surat Al Fatihah yang sangat indah sampai menggetarkan hatinya. Kartini meminta agar Kyai Soleh Darat menerjemahkan Al Qur’an kedalam bahasa Jawa.

Terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Jawa tersebut diberi judul Faidhur Rahman Fit Tafsiril . Jilid pertama terdiri dari 13 juz (surat Al Fatihah sampai Ibrahim) dihadiahkan kepada Kartini pada saat menikah dengan R.M Djoyodiningrat, Bupati Rembang. Kyai Soleh Darat meninggal beberapa saat setelah menyelesaikan buku jilid pertama tersebut, tapi bagi Kartini hal ini sudah cukup membuka pikirannya terhadap Islam. Pandangannya terhadap Islam menjadi positif. Mulai saat itu Kartini bercita-cita untuk menjadi seorang muslimah sejati.

Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai – cuplikan surat kepada Ny. Van Kol , tahun 1902.

Ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang itu sebenarnya Kartini temukan dari Al Barqarah : 257 “….minazhzhulumati ilan nuur” yang artinya “…dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)” Kalimat “minazhzhulumati ilan nuur” sering Kartini ulang-ulangi di dalam suratnya, yang dalam bahasa Belanda ditulis sebagai Door Duisternis Tot Licht.

Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentunya kami sudah memuja orang dan bukan Allah – cuplikan surat kepada Ny. Abendanon, tahun 1902.

Kartini merumuskan arti penting pendidikan untuk kaum wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki, namun agar kaum wanita lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagi ibu.

Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri kedalam tangannya : menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama – cuplikan surat kepada Prof. Anton dan Nyonya, tahun 1902.

Kartini meninggal dalam usia 25 tahun , 4 hari setelah melahirkan putranya. Semoga ketauhidan dan semangatnya diwarisi oleh seluruh wanita Indonesia.
Semoga bermanfaat ……

*dari berbagai sumber

Senin, Februari 22, 2010

Syair Kehidupan

Di saat ini
ingin kuterlena lagi
Terbang tinggi di awan
Tinggalkan bumi di sini

Di saat ini
ingin kumencipta lagi
Kan kutuliskan lagu
Sambil kukenang WAJAHMU

Malam panjang,
remang-remang
di dalam gelap
aku dengarkan
Syair lagu kehidupan

--- Achmad Albar ---

Cinta....

Orang tua harus mendorong anak-anaknya mencintai banyak orang. Makin banyak anak yang mengerti makna mencintai banyak orang, maka kehidupan akan berkelimpahan. Kita ini banyak yang miskin cinta. Akhirnya, lahir generasi yang cinta terhadap hal-hal tertentu, orang tertentu, kepercayaan tertentu, pemeluk agama tertentu, dan serba tertentu. Inilah penyebab banyak terjadinya peperangan didunia ini. Dunia miskin manusia pecinta, akhirnya yang tersebar adalah kematian. Padahal, cinta itu menghidupkan. Cinta memberikan kehidupan!

cuplikan " Rahasia Sepuluh Malam - Rayakan Hidup dgn Penuh Cinta" karya Achmad Chodjim

Sabtu, Januari 23, 2010

Kita mesti telanjang....

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat..
Singkirkan debu yang masih melekat..
.......

Kita mesti berjuang memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini
Berusahalah agar Dia tersenyum... oh
Berubahlah agar Dia tersenyum

"Untuk Kita Renungkan" - Ebiet G Ade

Kamis, Desember 17, 2009

Selamat Tahun Baru 1431H


Kawan, Sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan
Sebelum kita dihisabNya

(A. Mustofa Bisri, Antologi Puisi Tadarus)

Tahun baru Hijriyah hampir bersamaan dengan tahun baru Masehi. Biasanya tahun baru Masehi disambut dengan hiruk-pikuk luar biasa. Sementara tahun baru Hijriyah yang sering diidentikkan dengan tahun Islam, tidak demikian. Tidak ada trek-trekan sepeda motor di jalanan. Tidak ada terompet. Tidak ada panggung-panggung hiburan di alon-alon.Yang ada di sementara mesjid, kaum muslimin berkumpul berjamaah salat Asar –meski biasanya tidak—lalu bersama-sama berdoa akhir tahun; memohon agar dosa-dosa di tahun yang hendak ditinggalkan diampuni oleh Allah dan amal-amal diterima olehNya. Kemudian menunggu salat Maghrib –biasanya tidak—dan salat berjamaah lalu bersama-sama berdoa awal tahun. Memohon kepada Allah agar di tahun baru dibantu melawan setan dan antek-anteknya, ditolong menundukkan hawa nafsu, dan dimudahkan untuk melakukan amal-amal yang lebih mendekatkan kepada Allah.
Memang agak aneh, paling tidak menurut saya, jika tahun baru disambut dengan kegembiraan. Bukankah tahun baru berarti bertambahnya umur? Kecuali apabila selama ini umur memang digunakan dengan baik dan efisien. Kita tahu umur digunakan secara baik dan efisien atau tidak, tentu saja bila kita selalu melakukan muhasabah atau efaluasi. Minimal setahun sekali. Apabila tidak, insyaallah kita hanya akan mengulang-ulang apa yang sudah; atau bahkan lebih buruk dari yang sudah. Padahal ada dawuh: “Barangsiapa yang hari-harinya sama, dialah orang yang merugi; barangsiapa yang hari ini-nya lebih buruk dari kemarin-nya, celakalah orang itu.”
Apabila kita amati kehidupan kaum muslimin di negeri kita ini, boleh jadi kita bingung mengatakannya. Apakah kehidupan kaum muslimin --yang merupakan mayoritas ini-- selama ini menggembirakan atau menyedihkan. Soalnya dari satu sisi, kehidupan keberagamaan terlihat begitu hebat di negeri ini.
Kitab suci al-Quran tidak hanya dibaca di mesjid, di mushalla, atau di rumah-rumah pada saat senggang, tapi juga dilomba-lagukan dalam MTQ-MTQ. Bahkan pada bulan Ramadan diteriakan oleh pengerassuara-pengerassuara tanpa pandang waktu. Lafal-lafalnya ditulis indah-indah dalam lukisan kaligrafi. Malah dibuatkan museum agar mereka yang sempat dapat melihat berbagai versi kitab suci itu dari yang produk kuno hingga yang modern; dari yang berbentuk mini hingga raksasa. Akan halnya nilai-nilai dan ajarannya, juga sesekali dijadikan bahan khotbah dan ceramah para ustadz. Didiskusikan di seminar-seminar dan halaqah-halaqah. Bahkan sering dicuplik oleh beberapa politisi muslim pada saat kampanye atau rapat-rapat partai.
Secara ‘ritual’ kehidupan beragama di negeri ini memang dahsyat. Lihatlah. Hampir tidak ada tempat ibadah yang jelek dan tak megah. Dan orang masih terus membangun dan membangun mesjid-mesjid secara gila-gilaan. Bahkan di Jakarta ada yang membangun mesjid berkubah emas. (Saya tidak tahu apa niat mereka yang sesungguhnya membangun rumah-rumah Tuhan sedemikian megah. Tentu bukan untuk menakut-nakuti hamba-hamba Tuhan yang miskin di sekitas rumah-rumah Tuhan itu. Tapi bila Anda bertanya kepada mereka, insya Allah mereka akan menjawab, “Agar dibangunkan Allah istana di surga kelak”. Mungkin dalam pikiran mereka, semakin indah dan besar mesjid yang dibangun, akan semakin besar dan indah istana mereka di surga kelak.(Terus terang bila teringat fungsi mesjid dan kenyataan sepinya kebanyakan mesjid-mesjid itu dari jamaah yang salat bersama dan beri’tikaf, timbul su’uzhzhan saya: jangan-jangan mereka bermaksud menyogok Tuhan agar kelakuan mereka tidak dihisab).
Tidak ada musalla, apalagi mesjid, yang tidak memiliki pengeras suara yang dipasang menghadap ke 4 penjuru mata angin untuk melantunkan tidak hanya adzan. Bahkan ada yang sengaja membangun menara dengan beaya jutaan hanya untuk memasang corong-corong pengeras suara. Adzan pun yang semula mempunyai fungsi memberitahukan datangnya waktu salat, sudah berubah fungsi menjadi keharusan ‘syiar’ sebagai manifestasi fastabiqul khairaat; sehingga sering merepotkan mereka yang ingin melaksanakan anjuran Rasulullah SAW: untuk menyahuti adzan.
Jamaah dzikir, istighatsah, mujahadah, dan muhasabah menjamur di desa-desa dan kota-kota. Terutama di bulan Ramadan, tv-tv penuh dengan tayangan program-program ’keagamaan’. Artis-artis berbaur dan bersaing dengan para ustadz memberikan ‘siraman ruhani’ dan dzikir bersama yang menghibur.
Jumlah orang yang naik haji setiap tahun meningkat, hingga di samping ketetapan quota, Departemen Agama perlu mengeluarkan peraturan pembatasan. Setiap hari orang berumroh menyaingi mereka yang berpiknik ke negara-negara lain.
Jilbab dan sorban yang dulu ditertawakan, kini menjadi pakaian yang membanggakan. Kalimat thoyyibah, seperti Allahu Akbar dan Subhanallah tidak hanya diwirid-bisikkan di mesjid-mesjid dan mushalla-mushalla, tapi juga diteriak-gemakan di jalan-jalan.
Label-label Islam tidak hanya terpasang di papan-papan sekolahan dan rumah sakit; tidak hanya di AD/ART-AD/ART organisasi sosial dan politik; tidak hanya di kaca-kaca mobil dan kaos-kaos oblong; tapi juga di lagu-lagu pop dan puisi-puisi.
Pemerintah Pancasila juga dengan serius ikut aktif mengatur pelaksanaan haji, penentuan awal Ramadan dan ‘Ied. MUI-nya mengeluarkan label halal (mengapa tidak label haram yang jumlahnya lebih sedikit?) demi menyelamatkan perut kaum muslimin dari kemasukan makanan haram.
Pejuang-pejuang Islam dengan semangat jihad fii sabiilillah mengawasi dan kalau perlu menindak –atas nama amar ma’ruuf dan nahi ‘anil munkar-- mereka yang dianggap melakukan kemungkaran dan melanggar peraturan Tuhan. Tidak cukup dengan fatwa-fatwa MUI, daerah-daerah terutama yang mayoritas penduduknya beragama Islam pun berlomba-lomba membuat perda syareat.
Semangat keagamaan dan kegiatan keberagamaan kaum muslimin di negeri ini memang luar biasa. Begitu luar biasanya hingga daratan, lautan, dan udara di negeri ini seolah-olah hanya milik kaum muslimin. Takbir menggema dimana-mana, siang dan malam. Meski namanya negara Pancasila dengan penduduk majmuk, berbagai agama diakui, namun banyak kaum muslimin –terutama di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam— seperti merasa paling memiliki negara ini.
Barangkali karena itulah, banyak yang menyebut bangsa negeri ini sebagai bangsa religius.Namun, marilah kita tengok sisi lain untuk melihat kenyataan yang ironis dalam kehidupan bangsa yang religius ini. Semudah melihat maraknya kehidupan ritual keagamaan yang sudah disinggung tadi, dengan mudah pula kita bisa melihat banyak ajaran dan nilai-nilai mulia agama yang seolah-olah benda-benda asing yang tak begitu dikenal.Tengoklah. Kebohongan dan kemunafikan sedemikian dominannya hingga membuat orang-orang yang masih jujur kesepian dan rendah diri.
Rasa malu yang menjadi ciri utama pemimpin agung Muhammad SAW dan para sahabatnya, tergusur dari kehidupan oleh kepentingan-kepentingan terselubung dan ketamakan.Disiplin yang dididikkan agama seperti azan pada waktunya, salat pada watunya, haji pada waktunya, dsb. tidak sanggup mengubah perangai ngawur dan melecehkan waktu dalam kehidupan kaum beragama.
Plakat-plakat bertuliskan “An-nazhaafatu minal iimaan” dengan terjemahan jelas “Kebersihan adalah bagian dari iman”, diejek oleh kekumuhan, tumpukan sampah, dan kekotoran hati di mana-mana.
Kesungguhan yang diajarkan Quran dan dicontohkan Nabi tak mampu mempengaruhi tabiat malas dan suka mengambil jalan pintas.
Di atas, korupsi merajalela. Sementara di bawah, maling dan copet merebak
Jumlah orang miskin dan pengangguran seolah-olah berlomba dengan jumlah koruptor dan mereka yang naik haji setiap tahun.
Nasib hukum juga tidak kalah mengenaskan. Tak perlulah kita capek terus bicara soal mafia peradilan dan banyaknya vonis hukum yang melukai sanubari publik untuk membuktikan buruknya kondisi penegakan hukum negeri ini.
Penegak-penegak keadilan sering kali justru melecehkan keadilan. Penegak kebenaran justru sering kali berlaku tidak benar. Maniak kekuasaan menghinggapi mereka yang pantas dan yang tidak pantas. Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan bentuk badannya.
Tidak hanya sesama saudara sebangsa, tidak hanya sesama saudara seagama, bahkan sesama anggota organisasi keagamaan yang satu, setiap hari tidak hanya berbeda pendapat, tapi bertikai. Seolah-olah kebenaran hanya milik masing-masing. Pemutlakan kebenaran sendiri seolah-olah ingin melawan fitrah perbedaan.
Kekerasan dan kebencian, bahkan keganasan, seolah-olah menantang missi Rasulullah SAW: rahmatan lil ‘aalamiin, mengasihi seluruh alam, dan tatmiimu makaarimil akhlaaq, menyempurnakan akhlak yang mulia.
Penghargaan kepada manusia yang dimuliakan Tuhan seperti sudah mulai sirna dari hati. Termasuk penghargaan kepada diri sendiri.
Waba’du; jangan-jangan selama ini –meski kita selalu menyanyikan ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”—hanya badan saja yang kita bangun. Jiwa kita lupakan. Daging saja yang kita gemukkan, ruh kita biarkan merana. Sehingga sampai ibadah dan beragama pun masih belum melampaui batas daging. Lalu, bila benar, ini sampai kapan? Bukankah tahun baru ini momentum paling baik untuk melakukan perubahan?

Selamat Tahun Baru !

Oleh: A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Jumat, Desember 11, 2009

Sekolah

Buat apa sekolah..?
Sekolah = sarana untuk mengumpulkan informasi dari ALLAH... Informasi untuk apa..?
Informasi untuk bekal sebagai kalifah di bumi...
Dimana sekolahnya...?
Di universitas kehidupan...
Yang dipelajari ilmu apa..?
Seluruh yang terhampar di semesta ini adalah ILMUNYA
Siapa gurunya...?
Guru besarnya adalah ALLAH...

*****

Seorang bayi yang baru lahir beberapa saat kemudian sudah bisa menetek ke ibunya.
Siapa yang mengajari si bayi, kalau menetek itu disedot bukan ditiup..?

Awalnya si bayi hanya bisa telentang, kemudian tengkurap, duduk, berdiri, berjalan , sampai lancar bicara…
Siapa yang mengajari si bayi..?

Allah-lah pengasuh, pendidik dan penyempurna kehidupan kita.
Secara lahiriah kita merasa yang mengasuh dan mendidik kita adalah orang tua dan guru kita.
Kita malah merasa bahwa Allah tidak turut serta dalam pengasuhan dan pendidikan kita.
Padahal DIA selalu terlibat dalam pengasuhan dan pendidikan kita………..

Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha MELIPUTI segala sesuatu.(QS An-Nisa : 126)


** anak mbarep, Rahma Anisah Savita, hari ini genap umur 7 tahun, semoga menjadi anak yg soleha & bermanfaat………

Rabu, Maret 25, 2009

Nur Ala Nur

"Setan dan hawa nafsu seperti seorang pencuri yang menyelinap masuk ke dalam rumah kita di malam hari, ketika lampu-lampu didalam rumah telah dipadamkan, untuk mencuri segala sesuatu yang berharga. Kita tidak akan dapat melawan pencuri ini secara langsung, karena ia akan membalikkan kekuatan apa pun yang kita arahkan kepadanya. Jika kita menggunakan senjata, sang pencuri pun menggunakan benda serupa. Solusi yang paling mudah adalah dengan menghidupkan lampu. Si pencuri yang hanya berani hanya didalam kegelapan pasti akan lari meninggalkan rumah kita". Analogi yang indah dari Syekh Tosun Bayrak.

“Menghidupkan lampu” adalah menghidupkan cahaya didalam hati kita. Menghidupkan energi postif kita. Menjaga hati kita agar selalu bersih, menjaga dari eneg (energi negatif) sehingga energi cahaya Ilahi bisa masuk ke dalam hati kita. Menjadikan hati sebagai lentera hidup kita.
...............................

Ya Allah, Engkaulah nur ala nur, cahaya diatas cahaya
Ya Allah, terangilah jalan orang tua kami yang berpulang kepada-Mu
Ya Allah, terangilah hati keluarga kami dengan cahaya petunjuk-Mu
Ya Allah, terangilah hati anak-anak kami dengan cahaya kefahaman-Mu
Ya Allah, terangilah hati pasangan hidup kami dengan cahaya kasih sayang-Mu
sebagaimana Engkau menerangi langit dan bumi selamanya dengan rahmat-Mu

Tanpa cahaya-Mu, kami akan tersesat
Tanpa cahaya-Mu, kami tidak bisa iqra' segala ciptaan-Mu
Tanpa cahaya-Mu, kami tidak bisa menemukan makna hidup....


Abu Danis, Malang 25 Maret 2009, bengi-bengi, dikancani gedang goreng & wedang susu

All That U Can't Leave Behind


Tadi waktu di kamar mandi tiba-tiba teringat judul album U2 " ALL THAT YOU CAN'T LEAVE BEHIND". Dalam hati saya artikan dengan kira-kira...soale english-ku kacau balau he he he..."Segala sesuatu yang tidak bisa kamu tinggalkan (tempatkan dibelakangmu)".
Lho sekarang kok saya jadi ingat takbiratul ikhram, takbir yang mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak ada kaitannya dengan shalat sebagai peristiwa madhep lurus ke Gusti Allah. Menempatkan segala sesuatu dibelakang kita, masalah, persepsi, anak, istri, tetangga, kendaraan, pekerjaan, dll, dlsb...karena kita sedang menghadap, face to face dengan Sang Khalik.
Tapi takbiratul ikhram-ku selama ini masih " ALL THAT YOU CAN'T LEAVE BEHIND", menempatkan segala sesuatu berada didepanku,..sehingga terhijablah pertemuan dan dialog dengan Sang Khalik.

Abu Danis, Malang 25 Maret 2009, bengi-bengi dewean, ojob & da-nis wis bubuk

Senin, Maret 16, 2009

Nglakoni Al-Qur’an

Di RT-ku digiatkan lagi pengajian, belajar IQRO’… belajar mebaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar. Kebanyakan yang belajar tajwid adalah bapak-bapak yang sudah sepuh. Subhanallah, tanpa ada rasa malu atau gengsi mereka belajar kepada yang lebih muda, bahkan jauh lebih muda.
Menurut pengamatan saya bapak-bapak tersebut cuma tidak bisa membaca kitab suci Al-Qur’an dengan tajwid yang bagus TAPI para bapak-bapak tersebut dalam kehidupan sehari-harinya sudah menerapkan apa yang tertulis didalam Al-Qur’an….bermuamalah, bersilaturahim, saling tolong menolong, menjenguk bila ada yang sakit, memberi makan bila ada yang kelaparan, memberi minum bila ada yang kehausan…dll……dlsb…mereka sudah mengamalkan tanpa mereka sadari.
Saya jadi ingat sebuah hadist, ketika Aisyah RA ditanya mengenai akhlak Rosullullah, Aisyah RA menjawab bahwa akhlak rosul adalah Al-Qur’an….
Ya Allah, rahmatilah mereka….seharusnya dari bapak-bapak sepuh itulah kami belajar NGAJI AL-QUR’AN, nglakoni Al-Qur’an, menerapkan Al-Qur’an kedalam kehidupan sehari-hari, menjadikan Al-Qur’an akhlak didalam menjalani kehidupan.

Abu Danis, Malang, 16 Maret 2009 bengi, dewean, ojob & nak-kanak wis bubuk

Para Pencari Tuhan dan Para Penghianat Tuhan

Ada rasa penasaran di dalam hati kalo pas melihat judul sinetron di salah satu stasiun TV swasta “Para Pencari Tuhan” . Dalam hati saya bertanya…apakah saya sudah termasuk ke dalam kelompok Para Pencari Tuhan..???
Jujur saya merasa saat ini malah masih berada di kelompok Para Penghianat Tuhan. Hatiku, pikiranku, langkah-langkahku, aktifitas-aktifitasku masih tunduk kepada nafsuku sendiri…tunduk kepada egoku…. saya lebih menuhankan materi-materi…berhala…Niatku didalam beraktifitas masih karena kepingin dilihat dan dipuji orang, …riya..
Padahal Gusti Allah pernah bertanya “Alastu birabbikum…bukankah Aku Tuhanmu..? dan manusia menjawab..”Nggih, kulo bersaksi Panjenengan Gusti kulo, sesembahan kulo..tujuan kulo…”
Ya Allah kulo nyuwun ngapunten………..ihdinasshirothol mustakim…….

Abu Danis, Malang, 16 Maret 2009, bengi pas ojob & nak-kanak wis bubuk

Rendah Hati

Ketika George W Bush datang ke Indonesia, area radius beberapa kilometer tidak bisa dipakai untuk komunikasi. Ada alat yang bisa mengacak frekwensi jalur komunikasi.
Hikmah apa yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut ?
Pada jaman rekolobendu, setan pernah berdo’a meminta kepada Allah…
”Ya Allah ijinkan kami untuk menggoda anak cucu Adam sampai akhir jaman, kecuali mereka yang muklis”. …
Jadi antena setan ndak bisa mendeteksi atau menerima sinyal manusia-manusia yang merendahkan hatinya kepada Allah … tawadhu…setan tidak bisa menggoda manusia yang hatinya selalu tunduk kepada Allah…

Abu Danis, diilhami dari ceramah Pelatihan Sholat Khusyu', Ustadz Abu Sangkan, Kampus ABM Malang, 24-25 Januari 2009

Jumat, Februari 27, 2009

Mengadu ke Allah

Pernah lihat sikap seorang anak kecil ketika dijahili temannya? Biasanya si anak bilang, ‘awas aku aduin ke bapakku’. Seharusnya sikap kita sama seperti anak kecil tersebut ketika kita punya masalah yang menghimpit, bedanya kita mengadu ke Allah. Si anak tadi mengadu ke bapaknya, karena dia yakin bapaknya akan melindunginya. Begitupun, ketika kita mengadu minta tolong ke Allah, harusnya kitapun yakin akan pertolongan-Nya.

Ditulis oleh Guswib Sholat Center Yogyakarta 15 Februari 2009

RENUNGAN INDAH


Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua"derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".....

W.S. Rendra

Sexy Body Istri Tetangga - Dengan Sapi pun, Kita Bekerja Sama

Dalam forum maiyahan, tempat pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar, sering saya bertanya kepada forum:
"Apakah anda punya tetangga?"
Biasanya dijawab: "Tentu punya"
"Punya istri enggak tetangga Anda?"
"Ya, punya dong"
"Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?"
"Secara khusus,tak pernah melihat"
"Jari-jari kakinya lima atau tujuh?"
"Tidak pernah memperhatikan"
"Body-nya sexy enggak?"
Hadirin biasanya tertawa. Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka:
"Sexy atau tidak bukan urusan kita,kan?Tidak usah kitaperhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja".
Keyakinan keagamaan orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndakusah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, manayang lebih unggul atau apapun. Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam hati.
Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah. Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.
Tapi, sebagaimana istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.
Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya.
Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar istrinya ke rumah sakit.
Atau, Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah.
Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha, kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama dibidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing. Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau apapun. Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapipun kita bekerja sama nyingkal dan nggaru sawah. Itulah lingkaran tulus hati dangan hati. Itulah maiyah.

Emha Ainun Nadjib

Minggu, Februari 22, 2009

Spiritual Hak dan Bathil

Untuk membedakan konsep spiritual yang hak dan yang bathil. Pada prinsipnya sudah jelas, Islam menghilangkan konsep berhala sebagai objek pikir dan ketuhanannya. Mengapa Islam melarang penggunaan media patung didalam berdoa dan shalat, agar tidak terlacaknya getaran uluhiyah yang tidak bisa diukur dengan ilmu pengetahuan biasa. Sehingga reseptor indera tidakmampu menangkap getaran yang begitu cepat dan dahsyat seperti yang pernah dirasakan oleh nabi Musa dan Rasulullah saw.Gelombang uluhiyah tidak bisa ditangkap oleh gelombang elektromagnetik dan alat ukur lainnya yang bersifat materi. Kecuali hati orang mumin yang lunak dan tenang. Berupa Ilham, yaitu suatu wilayah ruhani yang tidak bisa diukur, karena tidak ada alat untuk mengukur ruh, seberapa berat dan tingginya. sehingga mustahil keruhanian bisa diukur dan diketahui. Karena ukuran kedalaman iman tidak bisa diketahui oleh siapapun. Karena tidak mungkin mengukur sesuatu dari bahan yang berbeda. Materi hanya bisa diukur dengan materi, ruhani hanya bisa diukur dengan ruhani. Sedangkan tuhan tidak bisa diukur dengan selain tuhan. Laisa kamist lihi syai’un.

oleh Ustadz Abu Sangkan ” Spiritual Salah Kaprah “